KESWAN

KESEHATAN  HEWAN

Pulau Madura dikenal sebagai daerah produksi ternak potong khususnya Kabupaten Sampang. Secara ekonomi Pulau Madura memiliki potensi yang sangat baik. Potensi ini dapat optimal bila didukung dengan sistem pemeliharaan yang memadai dengan cara menjaga dan mempertahankan kelestarian serta meningkatkan populasi ternak, salah satu diantaranya dengan cara memelihara dan mengembangkan ternaknya secara sehat, dalam arti mencegah atau menghilangkan terjadinya serangan penyakit, terutama penyakit hewan menular. Tindakan pengendalian dan pemberantasan dapat dilaksanakan berupa penolakan dan pengobatan kemungkinan timbulnya penyakit yang telah ada dan eksotik (penyakit hewan menular baru).

Adapun maksud dari kesehatan hewan adalah mencegah timbulnya wabah dan menekan angka kematian yang ditimbulkan  penyakit hewan menular, menghindarkan kerugian ekonomi akibat kehilangan produksi, meningkatkan produksi dan produktifitas ternak dengan melaksanakan pengamanan ternak (pengendalian, pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan menular) serta mengupayakan agar tidak timbul penyakit eksotik dan mempertahankan status bebas penyakit hewan menular bagi penyakit hewan menular tertentu.

Tujuan dari kesehatan hewan adalah tercapainya tindak pengendalian, penanggulangan dan pemberantasan penyakit hewan menular yang bersifat zoonosis dalam melindungi kesehatan masyarakat konsumen, tercapainya angka kematian ternak (mortalitas rate) kurang dari 0,01%, tercapainya pengurangan/menyempitnya wilayah terancam wabah (population risk), tercapainya penurunan kasus penyakit (incident rate) menjadi kurang dari 0,03%, tercapainya intensitas pengamatan dan pemberantasan penyakit dan tercapainya penurunan jumlah pemotongan ternak betina produktif menjadi 10%.

Uraian seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan dalam tahun anggaran 2009 secara rinci diuraikan sebagai berikut :

  1. 1. Pengamatan Penyakit Hewan dan Pelayanan Medik Veteriner

1.1    Pengamatan penyakit hewan merupakan kegiatan memantau, mengamati serta untuk mengetahui kejadian penyakit hewan menular dalam suatu daerah sedini mungkin. Kegiatan pengamatan penyakit hewan menular di Kabupaten Sampang pada tahun 2009 dapat diuraikan sebagai berikut :

Pengamatan Penyakit Viral

Bovine Ephemeral Fever ( BEF )

Penyakit virus pada sapi disebabkan oleh virus RNA yaitu Rhabdovirus yang ditularkan oleh vektor serangga dengan gejala yang khas berupa otot menggigil, berjalan kaku dan pembesaran limfoglandula superficialis. Kejadian BEF di Kabupaten Sampang pada tahun 2008 dilaporkan sebanyak 587 kasus sedangkan tahun 2009 sebanyak 368 kasus, yang berarti terjadi penurunan kasus secara signifikan.

Malignant  Catarrhal  Fever  (MCF)

Penyakit virus infeksius yang fatal dan akut pada sapi dan kerbau disebabkan oleh virus herpes, yang ditandai dengan demam tinggi, rhinitis serta keratokonjungivitis.  Penyakit akan menyebar di daerah domba dan sapi yang diternakkan secara bersama. Dari monitoring di lapangan  tahun 2008 sebanyak 4 kasus sedangkan pada tahun 2009 sebanyak 9 kasus, yang berarti terjadi kenaikan sebanyak 5 kasus. Hal ini bisa disebabkan karena penyakit ini bersifat sporadis dan kurangnya  pengetahuan  dari peternak mengenai penyakit tersebut.

Penyakit  Orf

Orf dikenal dengan nama Bengoran, disebabkan oleh virus cacar. Menyerang pada hewan kambing dan domba dan sangat menular. Gejala yang menyolok adanya penebalan  yang meradang disekitar ambing, alat kelamin disekitar mata dan bibir yang dapat berubah menjadi lepuh yang menyerupai bunga kol. Dari monitoring dilapangan tahun 2008 dilaporkan sebanyak 5 kasus sedangkan tahun 2009 sebanyak 4 kasus. Dari perkembangan selama satu tahun berarti terjadi penurunan sehingga tujuan dari pelayanan kesehatan hewan dapat tercapai.

Flu Burung (Avian Influenza)

Tahun 2009 tim PDSR (Participatory Disease Searching and Response) Kabupaten Sampang telah melaksanakan beberapa aktivitas untuk pelacakan flu burung (HPAI).  Kegiatan tersebut meliputi pengumpulan informasi desa, surveillance dan investigasi, pengendalian, pencegahan dan monitoring kegiatan pencegahan HPAI ( High Patogenic Avian Influenza) di desa. Pengumpulan informasi desa yaitu kegiatan pengumpulan data desa yang akan di surveillance meliputi informasi umum desa, demografi desa, sistem pemeliharaan unggas, jenis dan rata-rata unggas yang dipelihara, lalu lintas unggas yang dibawa keluar desa, jarak antara desa dengan kegiatan usaha peternakan yang dapat menimbulkan resiko, program penyuluhan, riwayat vaksinasi dan kejadian kompatibel HPAI.

Surveillance dan investigasi  HPAI dilakukan setelah informasi desa telah dilengkapi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada kejadian kompatibel HPAI yang terjadi pada desa tersebut dengan cara melakukan wawancara setengah terstruktur  (semi structure interview). Desa dengan tingkat resiko yang tinggi dan ada laporan di duga kasus flu burung di utamakan untuk di surveillance terlebih dahulu. Dari hasil Surveillance dan investigasi HPAI dapat ditentukan status desa tersebut yang meliputi :

Tidak ada kejadian kompatibel HPAI dalam 60 hari terakhir maka status desa tampaknya bebas

Ada kejadian kompatibel HPAI dalam 14 hari terakhir dan tidak ada hasil rapid test positif, maka status desa suspect 14

Tidak ada kejadian kompatibel HPAI sejak kunjungan surveillance terakhir yaitu dalam 14 hari terakhir, maka status desa suspect 60

Ada kejadian kompatibel HPAI dalam 14 hari terakhir dan ada hasil rapid test positif, maka status desa tertular

Tidak ada kejadian kompatibel HPAI di desa dalam 14 hari terakhir sejak kegiatan pengendalian selesai dilakukan, maka status desa terkendali

Dari penentuan status desa, tim PDSR akan menindaklanjuti dengan kegiatan berikutnya sesuai dengan status desa sampai status desa menjadi tampaknya bebas.

Pengendalian HPAI dilakukan pada desa tertular. Kegiatan pengendalian antara lain:

  1. Menyarankan pada peternak tradisional dan peternak komersial untuk melakukan pengandangan/ pengurungan unggas
  2. Menyarankan pada peternak tradisional dan peternak komersial untuk melakukan pemusnahan (culling) unggas

Tindakan pencegahan HPAI dilakukan pada desa yang berstatus tampaknya bebas dan terkendali, tindakan monitoring dilakukan untuk memonitor respon masyarakat atau usaha peternakan komersial terhadap kegiatan pencegahan HPAI.

Selama tahun 2009  tim PDSR telah melakukan surveillance sebanyak 67 desa dari 8 kecamatan di Kabupaten Sampang. Bulan Januari sampai April telah di surveillance 27 desa pada Kecamatan Sreseh, Sampang, Ketapang dan Sokobanahdan menunjukkan hasil   12 desa yang berstatus tampaknya bebas (44,4 %), 8 desa berstatus suspect 60 (29,6 %) dan 7 desa berstatus suspact 14 (26 %). Sedangkan pada bulan Mei samapai Agustus 40 desa yang disurvei dari Kecamatan Sampang, Torjun, Camplong, Banyuates dan Sokobanah telah di surveillance dan menunjukkan hasil 19 desa yang berstatus tampaknya bebas (47,5%), 10 desa berstatus suspect 60 (25 %) dan 11 desa berstatus suspact 14 (27,5 %).

Bulan September sampai Nopember sebanyak 36 desa di Kecamatan  Pangarengan, Camplong, Omben, Robatal dan Banyuates telah di surveillance dan menunjukkan hasil 24 desa berstatus tampaknya bebas (66,7 %), 7 desa berstatus suspect 60 (19,4 %) dan 5 desa berstatus suspect 14 (13,9 %).

Pengamatan Penyakit Parasiter

Scabiosis

Penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit Sarcoptes scabei atau yang lebih dikenal dengan kudis yang menyerang hampir semua jenis ternak dimana faktor predisposisi adalah pemeliharaan yang kurang baik dan kekeringan. Kerugian utama dari penyakit adalah terjadinya penurunan harga kulit karena kualitas yang jelek. Penyakit sporadik ini tersebar merata ke hampir seluruh wilayah Kabupaten. Dari laporan yang masuk kejadian Scabiosis tahun 2008 sebanyak 90 kasus pada sapi, 107 kasus pada kambing. Pada tahun 2009 sebanyak 55 kasus pada sapi dan 42 pada kambing dan 7 kasus pada kelinci. Dari perkembangan selama satu tahun berarti terjadi penurunan sehingga tujuan dari pelayanan kesehatan hewan dapat tercapai.

Helminthiasis

Diantara penyakit yang berasal dari cacing dan perlu dicermati adalah yang disebabkan oleh cacing saluran pencernaan (Nematodosis).  Manifestasi klinis ditandai dengan pertumbuhan yang terhambat, penurunan berat badan, penurunan daya kerja dan reproduksi serta kematian.

Dari hasil laporan monitoring dan pelayanan kesehatan hewan di lapangan pada tahun 2008 ditemukan  sebanyak 18 kasus pada sapi dan 2 kasus pada kambing sedangkan pada tahun 2009 ditemukan sebanyak 27 kasus pada sapi. Hal ini bisa disebabkan karena perubahan musim penghujan yang panjang.

1.2. Penyidikan Penyakit

Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sampang bekerja sama dengan UPT Laboratorium Kesehatan Hewan Tipe B Tuban melakukan pengambilan dan  pemeriksaan sampel :

  1. Tanggal 8 April 2009 pengambilan darah sapi sebanyak 54 sampel untuk pemeriksaan Brucella, 39 sampel ulas darah untuk pemeriksaan parasit darah, 49 sampel feses sapi untuk pemeriksaan cacing  dan 4 sampel BAH (Bahan Asal Hewan) yang terdiri dari 1 sampel daging sapi, 1 sampel daging kambing, 1 sampel daging ayam dan 1 sapel Bakso Sapi di Kecamatan Sampang dan Kecamatan Banyuates. Dari hasil pemeriksaan didapatkan 5 sampel positif cacing (Strongyle sp dan Fasciola sp), pemeriksaan parasit darah dan Brucellosis semuanya negatif. Hasil pemeriksaan BAH daging sapi, kambing dan ayam memiliki cemaran mikroba yang melebihi batas maksimum sedangkan pemeriksaan bakso sapi positif terhadap formalin.
  2. Tanggal 13 Mei 2009 juga melakukan pengambilan sampel darah unggas untuk pemeriksaan HPAI. Pengambilan sampel darah unggas sebanyak 50 sampel  (25 sampel darah ayam dan 25 sampel darah bebek) di Desa Aeng Sareh Kecamatan sampang. Dari hasil pemeriksaan 1 sampel darah ayam memiliki titer Ab AI protektif sebanyak 2% dan 3 sampel darah bebek memiliki titer Ab ND rendah sebanyak 37,5 %

Dinas Kelautan, perikanan dan Peternakan juga bekerjasama dengan Balai Stasiun  Karantina Pertanian Kamal melakukan pengambilan dan  pemeriksaan sampel darah sapi untuk monitoring kasus AI :

  1. Tanggal 29 Juni 2009  di Desa Sejati Kecamatan Camplong sebanyak 45 sampel. Dari hasil pemeriksaan didapatkan 3 sampel positif terhadap IBR dan 1 sampel positif terhadap Paratuberculosis.
  2. Tanggal 2 September 2009 di Desa Sejati Kecamatan Camplong sebanyak 6 sampel (3 sampel darah sapi dan 3 sampel feses sapi) untuk pemeriksaan Paratuberculosis. Hasil pemeriksaan semuanya negatif.

Selain itu Dinas Kelautan, perikanan dan Peternakan juga bekerjasama dengan  Lembaga Pendidikan  dari Universitas Sebelas Maret, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Jurusan Biologi melakukan pengambilan sampel darah sapi sebanyak 25 sampel pada tanggal 26 Nopember 2009 di Kecamatan Sampang dan Kecamatan Torjun untuk tujuan penelitian Genetik Sapi Madura.

Laboratorium Kesehatan Hewan Type C Sampang melakukan pengambilan dan pemeriksaan feces untuk mengetahui kejadian penyakit parasiter saluran pencernaan dan sampel kerokan kulit untuk mengetahui penyebab penyakit berasal dari parasit atau bakteri di Kabupaten Sampang didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Sampel Feses Sapi Tahun 2009

No Kecamatan Desa Jumlah sampel Hasil
1 Sampang Panggung 11 Positif: Toxocara sp. 3 sampel
2 Torjun Kodak 16 positif: Strongyloide sp. 4 sampel, Bunostomum sp.2 sampel, Cooperia sp. 1 sampel
Krampon 7 positif: Paramphistomum  sp. 1 sampel, Oesophagostomum sp.1 sampel
3 Camplong Batokarang 7 positif: Bunostomum sp.1 sampel, Cooperia sp. 1 sampel
4 Sreseh Bundah 13 positif: Oesophagostomum sp.1 sampel
Klobur 5 negatif semua
5 Robatal Gn. Rancak 11 positif: Bunostomum sp.2 sampel,
6 Ketapang Ketapang Barat 2 negatif semua
7 Kedungdung Banyukapah 26 positif: Toxocara sp.6 sampel, Bunostomum sp. 2 sampel
8 Sokobanah Sokobanah tengah 3 negatif semua
Bira tengah 24 positif: Strongyloide sp. 4 sampel, Bunostomum sp.2 sampel, Cooperia sp. 1 sampel
Jumlah 125

2.  Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan Menular

Dalam upaya penanggulangan dan pencegahan terhadap terjangkitnya penyakit hewan/ternak serta meningkatkan pemeliharaan kesehatan dan kualitas hewan yang diperdagangkan maka diperlukan  upaya pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan menular salah satunya yaitu dengan melakukan biosecurity berupa penyemprotan kandang unggas untuk pencegahan penyakit Flu Burung.

Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sampang pada bulan Agustus 2009 mendapatkan bantuan Desinfektan dana APBN dari Dinas Peternakan Propinsi sebanyak 400 liter yang telah didistribusikan ke 5 Kecamatan se-Kabupaten Sampang yaitu Kecamatan Sampang (Desa Polagan), Kecamatan Camplong (Desa Sejati dan Dh. Tanjung), Kecamatan Kedungdung (Desa Rahayu), Kecamatan Pangarengan (Desa Ragung dan Panyirangan) dan Kecamatan Ketapang (Desa Bunten Timor dan Bunten Barat).  Pada Bulan Nopember 2009 mendapatkan bantuan Desinfektan sebanyak 1.200 liter dan Insektisida sebanyak 40 liter dari dana APBD. Desinfektan telah didistribusikan ke 8 Kecamatan yaitu Kecamatan Sampang (Poskeswan Samapang), Kecamatan Camplong (4 desa), Kecamatan Torjun (2 desa), Kecamatan Jrengik (2 desa), Kecamatan Pangarengan (4 desa), Kecamatan Omben (2 desa), Kedungdung (3 desa) dan Kecamatan Ketapang (4 desa). Insektisida  juga telah didistribusikan kepada 2 puskeswan yaitu Puskeswan Sampang dan Puskeswan Ketapang.

2.1. Pelayanan Kesehatan Hewan

Untuk pelayanan kesehatan hewan/ ternak ditempuh melalui rangkaian kegiatan pengamanan ternak ditopang oleh dana, sarana dan tenaga yang tersedia dalam bentuk :

  1. a.        Melakukan diagnosa dan pengobatan terhadap hewan/ternak yang sakit di wilayah yang potensi peternakannya sangat memungkinkan.
  2. b.       Melakukan kontrol kesehatan terhadap hewan/ternak rakyat untuk pencegahan terhadap penyakit yang mungkin akan timbul karena perubahan musim.

Pelaksanaan Kegiatan Pemeliharaan Kesehatan dan Pencegahan Penyakit Menular Ternak Tahun 2009 yang dananya berasal dari DAU dilaksanakan di 12 lokasi desa pada 10 kecamatan se-Kabupaten Sampang, dengan jumlah ternak yang terlayani sebanyak 1.641 ekor sapi dengan rincian sbb :

Tabel 2.1.1. Pelayanan Kesehatan Hewan Tahun 2009

No Tanggal Kecamatan/ Desa Jumlah (ekor) Keterangan
1 17-04-2009 Jrengik/ Bancelok 81 Kunjungan Dewan Penasehat Presiden
2 28-04-2009 Torjun/Kodak 112
3 29-04-2009 Sampang/Panggung 60
4 05-05-2009 Sokobanah/Sokobah Tengah 97
5 11-05-2009 Kedungdung/Banyukapah 131
6 12-05-2009 Ketapang/ Ketapang Barat 88
7 26-05-2009 Sreseh/ Labang 168
8 06-07-2009 Camplong/Batokarang 232
9 14-07-2009 Robatal/ G. Rancak 79
10 10-08-2009 Jrengik/Taman 317
11 17 Juni 2009 Bira Tengah/ Sokobanah 226 Bulan Bhakti Gotong  

Royong

12 29 Juni 2009 Sokobanah/ Sokobanah Daya 50 Bulan Bhakti Gotong  

Royong

Total 1.641

Dari Dana DAU Kegiatan Pemeliharaan Kesehatan dan Pencegahan Penyakit Menular Ternak TA. 2009 ini juga didanai untuk Pemeriksaan gangguan reproduksi (Asistensi Teknik Reproduksi ) sebanyak 300 ekor adalah sebagai berikut :

Tabel 2.1.3. Pemeriksaan ATR Tahun 2009

No Kecamatan Jumlah Pemeriksaan Keterangan
1.  

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Sreseh (Labang, Klobur)  

Sokobanah (Bire Tengah)

Jrengik (Taman)

Camplong (Bato karang)

Robatal (G. Rancak)

Torjun (Kodak)

Kedungdung (Banyukapah)

98  ekor  

8  ekor

66  ekor

64  ekor

20 ekor

27 ekor

17 ekor

Atropi : 12  ekor  

Prolaps vagina : 3  ekor

Retensi Sc : 1 ekor

Pyometra : 3 ekor

Dystokia : 5  ekor

Torsio : 1  ekor

Hipofungsi : 9  ekor

CO : 2  ekor

Endometritis : 3  ekor

300 ekor

Sedangkan pelayanan petugas medis di lapangan dilaporkan kasus-kasus penyakit sebagai berikut :

Tabel 2.1.2. Kasus penyakit yang ditangani tahun 2009

No Jenis Kasus Jenis Ternak Jumlah
1 2 3 4
1. B E F Sapi 369
2. MCF Sapi 10
4. Orf Kambing 5
5. Indigesti Sapi 25
6. Distokia Sapi 100
7. Myasis Sapi 29
8. Scabiosis Sapi/kambing/kelinci 55/43/7
9. Enteritis Sapi 98
10. Diarrhea Sapi 61
11. Abortus Sapi 3
13. Retensio scundinae Sapi 25
14. Dermatosa Sapi 20
15. Helminthiasis Sapi 27
16. Tympani Sapi 10
19. Hepatitis Sapi 44
20. Prolapsus vagina Sapi 102
21. Prolapsus uteri Sapi 26
22. Malnutrisi Sapi 18
23. Torsio uteri Sapi 7
27. Pink Eye Kambing 4
35. Kontrol kesehatan Sapi 331
J U M L A H Sapi/kambing/kelinci 1.365/47/7

2.2  Pengawasan Obat Hewan

Populasi ternak sebagai sumber protein hewan dapat meningkat salah satunya dengan penyediaan obat yang berkualitas sesuai ketentuan yang berlaku. Dalam kaitan tersebut Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sampang mempunyai kewajiban untuk mengawasi peredaran obat hewan yang bertujuan mencegah terjadinya bentuk penyimpangan dalam kaitannya dengan pembuatan, penyediaan, peredaran dan pemakaian obat hewan yang beredar dalam masyarakat aman, efektif, legal dan berkhasiat. Pada Tahun 2009 Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sampang melakukan Pengawasan Obat Hewan pada Toko Obat Hewan/Poultry Shop meliputi :

1.    Toko Burung                         Jl. KH. Wahed Hasyim

2.    Maju Mulya                          Jl. Teuku Umar

3.   Maju Jaya                               Jl. Teuku Umar

  1. Putra Jaya                             Jl. Teuku Umar
  2. UD. Subur Sari Jaya             Jl. Pahlawan
  3. Toko Hewan Sehat            Jl. Jaksa Agung Suprapto

Pembinaan dan pengawasan obat hewan yang telah dilakukan adalah :

–  Melakukan sosialisasi permohonan ijin bidang usaha obat hewan/poultry shop dan peredaran obat hewan

–    Ada 3 (tiga) Poultry shop yang sudah mengurus ijin usaha penjualan obat hewan dan distributor obat hewan sebagai penanggung jawab obat hewan (dokter hewan).

–    Poultry shop menjual vaksin sesuai pesanan/ rekomendasi dari distributor obat

–    Poultry shop hanya menyediakan feed suplemen (vitamin, antibiotik dan mineral) dan pakan ternak.Sedangkan toko obat hewan sehat menjual obat berbentuk tablet dan injeksi dengan pemakaian dibawah pengawasan dokter hewan.

–    Poultry shop dan toko obat hewan menyediakan vaksin apabila ada pesanan (vaksin ND, Leucorifelin).

Hasil Pengawasan tersebut dikirimkan ke Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur setiap tiga bulan sekali.

2.4. Pengawasan lalu lintas ternak dan bahan asal hewan

Tujuan Kegiatan ini untuk memberikan rekomendasi demi kepentingan lalu lintas bahan asal hewan/hasil bahan asal hewan untuk antar propinsi. Di Kabupaten Sampang terdapat dua lokasi untuk pengiriman ternak antar daerah yaitu di Kecamatan Sampang dan Ketapang. Petugas pemeriksa kesehatan hewan bertugas melakukan pengawasan dan pemeriksaan semua ternak/bahan asal hewan yang akan dikirim keluar Kabupaten Sampang. Petugas pemeriksa kesehatan hewan wajib melaporkan realisasi pengiriman ternak/bahan asal hewan setiap minggu dan hasil rekapitulasi laporan tersebut akan dikirim setiap bulannya ke Dinas Peternakan Propinsi.

Setiap ternak dan bahan asal ternak yang akan dibawa keluar Kabupaten setelah diperiksa kesehatannya oleh petugas yang telah ditunjuk oleh Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sampang dan diberi SKPKH serta  dikenakan retribusi sebesar Rp. 5.000 (lima ribu rupiah) sesuai Peraturan Daerah Nomor : 12 tahun 1998 tentang Retribusi Kakayaan Daerah yang mulai diberlakukan Januari 2000 untuk Kabupaten Sampang.

Dalam tahun 2009 jumlah sapi yang dikirim ke luar daerah yaitu Surabaya sebanyak 1.726 ekor serta 1.860 kg daging dan Malang sebanyak 185 kg daging.

Tabel 2.4.1  Pengeluaran Ternak dan Bahan Asal Hewan Tahun 2009

No Bulan Jumlah Berdasarkan Daerah Tujuan  (ekor)
Surabaya Malang Sidoarjo Pasuruan Bogor Tangerang Jakarta
1 Januari 72 sapi
2 Pebruari 85 sapi
3 Maret 116 sapi
4 April 152 sapi, 490 kg (daging) 185 kg (daging)
5 Mei 169 sapi
6 Juni 100 sapi , 135 kg (daging)
7 Juli 300 sapi , 100 kg (daging)
8 Agustus 199 sapi
9 September 156 sapi ,95 kg (daging)
10 Oktober 163 sapi, 100 kg (daging)
11 Nopember 189 sapi , 195 kg (daging) 100 kambing 1 sapi, 2 kambing 1 sapi 6 sapi 20 sapi 60 kambing
12 Desember 46 sapi, 350 kg (daging)
Total 1.747 , 1.465 kg (daging) 100, 185 kg (daging) 1 sapi, 2 kambing 1 sapi 6 sapi 20 sapi 60 kambing

Selain itu Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sampang juga memeriksa Bahan Asal Hewan (BAH) berupa daging ayam dan daging sapi di Pasar Sampang, Omben, Tambelangan dan Banyuates  dengan pemeriksaan  secara fisik (warna, tekstur dan bau) serta menggunakan PH meter dan pengujian Eber (untuk menguji daging busuk).

Tabel 2.4.2 Hasil Pemeriksaan BAH Tahun 2009

No Lokasi Jenis Sampel Jumlah Sampel Hasil
1 Pasar Omben Daging Sapi 24 Pemeriksaan Eber: 15 sampel positif dengan warna merah kusam, bau menyengat dan pH asam
Daging Ayam 4 Pemeriksaan Eber : negatif
2 Pasar Tambelangan Daging Sapi 6 Pemeriksaan eber: negatif
Daging ayam 5 Pemeriksaan fisik: warna kuning (diberi pewarna), pemeriksaan eber 1 sampel positif
3 Pasar Sampang Daging Sapi 15 Pemeriksaan Eber: 5 sampel positif  dengan warna merah pucat, bau menyengat dan pH asam
Daging Ayam 11 Pemeriksaan Eber: 2 sampel positif
4 Pasar Ketapang Daging Sapi 13 Pemeriksaan eber 1 sampel positif
Daging Ayam 8 Pemeriksaan eber negatif
Daging Kambing 1 Pemeriksaan eber negatif
Total 87

Dari hasil pemeriksaan masih banyak daging yang sudah menunjukkan gejala pembusukan dijual dipasaran sehingga perlu peningkatan pemeriksaan daging di pasar-pasar kecamatan lain dan penyuluhan yang intensif.

Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan)

Berdasarkan Permentan Nomor 64/Permentan/OT.140/9/2007 tentang Pedoman Pelayanan Pusat Kesehatan Hewan,  Pusat Kesehatan Hewan  merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan hewan di lapangan guna pengamatan, penyidikan, pengendalian, pengobatan dan pemberantasan penyakit hewan menular. Pembinaan Puskeswan diarahkan melalui pemberdayaan Puskeswan dengan mengoptimalkan sarana dan prasarana yang telah ada. Pelayanan kesehatan hewan yang dilaksanakan Puskeswan menggunakan 3 pola yaitu pelayanan aktif, semi aktif dan pasif. Dalam perkembangan selanjutnya Puskeswan diarahkan untuk dapat memadukan antara pelayanan kesehatan hewan dengan pembinaan produksi ternak, manajemen usaha, IB dan pengendalian reproduksi ternak.

Puskeswan Kecamatan Sampang yang telah lama beroperasi pada tahun 2008 direnovasi dengan dana DAK  sebesar  Rp. 27.200.000,-. Pada tahun ini juga terjadi penambahan 2 unit Puskeswan lagi yaitu di Kecamatan Ketapang dan Kecamatan Jrengik. Puskeswan  Kecamatan Ketapang yang dibangun pada tahun 2007 dengan Dana Alokasi Khusus (DAK)  pada tahun ini dibangun pagar dan kelengkapan sarana dan prasarananya dengan DAK sebesar Rp. 123.901.000. Puskeswan ini mulai beroperasi pada bulan November 2008. Puskeswan Kecamatan Jrengik dibangun dengan dana yang bersal dari APBN dan pembangunannya dilaksanakan oleh Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur telah selesai dibangun namun sampai saat ini belum dioperasikan  karena sarana dan prasarananya  belum lengkap (air, listrik, mebelair dan perlatan penunjang)  serta belum diserah terimakan Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur kepada Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sampang. Dari ketiga Puskeswan ini diharapkan tercapainya pengendalian, penanggulangan dan pemberantasan penyakit hewan menular dan yang bersifat zoonosis dalam melindungi kesehatan masyarakat.

Kejadian penyakit hewan menular maupun penyakit individu yang dimonitoring dan  dilayani oleh Puskeswan  dilaporkan sebagai berikut :

Tabel 2.3.  Kegiatan Pelayanan Kesehatan Puskeswan Tahun 2009

No Penyakit Jumlah (ekor)
Sapi Kambing Kuda Kucing Kelinci Ayam
1 Arthritis 2
2 Abortus 4
3 BEF 89
4 Distokia 31 1
5 Dermatitis 13
6 Diare 13 1
7 DCS 3
8 Enteritis 19 3
9 Influenza 1
10 Indigesti 1 1
11 Helminthiasis 6
12 Hepatitis 8
13 Luka bakar 2
14 Lumpuh 1
15 Malnutrisi 5 1
16 Mumifikasi 3
17 Omphalitis 2
18 Prolapssus 17
19 Retensi Secundinae 8
20 Scabiosis 4 1 2
21 Torsio uteri 5
22 Vulnus 5 1
23 Vaksin 1
24 Kontrol Keswan 270
Total 506 5 1 5 2 5

3.    Pembinaan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet)

Pembinaan Kesmavet mempunyai peranan yang sangat penting dalam melindungi masyarakat konsumen dari bahaya akibat mengkonsumsi produk peternakan berupa food borne disease dan food borne intoxication, menjamin kesehatan dan ketentraman batin masyarakat dengan terciptanya produk peternakan yang aman, sehat, utuh/murni dan halal.

Untuk melaksanakan tersebut diatas maka Pembinaan Kesehatan Masyarakat Veteriner pada tahun anggaran 2009 telah melaksanakan kegiatan sebagai berikut :

3.1  Pengawasan Daging

Dalam rangka menjamin keamanan produksi pangan asal hewan dan kesehatan masyarakat dalam mengkonsumsi pangan asal hewan diperlukan upaya peningkatan higiene dan sanitasi RPH dan TPH. Dari hasil monitoring yang dilakukan Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan pada RPH/TPH se Kabupaten Sampang diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 3.1. Jumlah Pemotongan Ternak Tahun 2009 (Ekor)

No Kecamatan Sapi Kambing Domba Ayam  

Buras

Ayam Pedaging Itik Entok
1 2 3 4 5 6 7 8 9
1. Sampang 1702 332 29 2600 29300 1400 15
2. Camplong 78 15 1250 9800 200 20
3. Omben 1598 150 21 1450 750 130 10
4. Torjun 288 54 12 550 1100 125 8
5. Jrengik 50 9 950 300 170 7
6. Sreseh 75 35 1900 7500 122 6
7. Kedungdung 232 47 4 1850 2200 115 5
8. Tambelangan 378 70 9 1245 400 54 5
9. Robatal 40 4 1120 500 60 13
10. Ketapang 1268 335 5 1800 8700 170 13
11. Banyuates 122 80 18 2100 31000 165 11
12. Sokobanah 160 65 21 1900 600 125 9
13. Pangarengan 55 19 250 400 40 7
14. Karang Penang 283 35 4 380 2560 50 6
Jumlah 6031 6031 205 19345 95110 2926 135

3.2. Pengawasan dan pengendalian pemotongan ternak besar betina  produktif

Tujuan yang diharapkan dari pengawasan dan pengendalian pemotongan ternak betina produktif adalah :

–        Peningkatan dan pertumbuhan sapi potong.

–        Pemotongan sapi betina produktif berkurang atau tidak ada sama sekali.

–        Jumlah bibit sapi potong diharapkan meningkat/menjadi kelestarian plasma nutfah sapi potong lokal.

Tahun 2008 jumlah pemotongan ternak sapi betina produktif di RPH dan TPH di Kabupaten Sampang sebanyak 502 ekor dari 5.077 ekor atau 9.88%. Tahun 2009 terjadi penurunan pemotongan  ternak betina sebanyak 91 ekor dari 6.031 ekor atau 1.51 %.

Tabel 3.2.  Jumlah Pemotongan Ternak (sapi) Betina Tahun 2009

No. Kecamatan Ternak sapi betina yang dipotong (ekor)
1 2 3
1. Sampang 25
2. Camplong
3. Omben 19
4. Torjun 2
5. Jrengik
6. Sreseh
7. Kedungdung 1
8. Robatal
9. Karang Penang 2
10. Ketapang 18
11. Tambelangan 17
12. Pangarengan
13. Banyuates 3
14. Sokobanah 4
Jumlah 91

3.3. Pemotongan Ternak untuk Kebutuhan Hari Raya Qurban

Dalam rangka meningkatkan upaya pemenuhan kebutuhan Hari Raya Qurban, maka perlu adanya pemantauan terhadap kebutuhan dan penyembelihan ternak qurban sesuai persyaratan halal dan higienis dan pemeriksaan kesehatan hewan pada persiapan pemotongan ternak qurban utamanya terhadap kemungkinan terjangkit penyakit tertentu pada ternak yang membahayakan bagi yang mengkonsumsinya.

Tabel 3.3.  Realisasi Pemotongan Ternak Qurban Tahun 2009

NO KECAMATAN JENIS TERNAK BERAT HIDUP/EKOR HARGA RATA-RATA/EKOR
SAPI KAMBING SAPI KAMBING SAPI KAMBING
(ekor) (ekor) (Kg) (Kg) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Sampang 32 95 275 50 7.000.000,00 900.000,00
2 Camplong 3 31 200 35 6.500.000,00 700.000,00
3 Robatal 11 250 6.500.000,00
4 Kedungdung 22 16 250 40 5.200.000,00 800.000,00
5 Pangarengan 22 10 250 40 6.500.000,00 700.000,00
6 Karang Penang 1 250 6.500.000,00
7 Ketapang 29 81 265 50 7.000.000,00 1.00.000,00
8 Sreseh 3 15 200 35 6.500.000,00 600.000,00
9 Banyuates 12 210 6.000.000,00
10 Torjun 19 4 210 35 6.000.000,00 750.000,00
11 Sokobanah 27 6 300 40 5.500.000,00 700.000,00
12 Tambelangan 35 21 250 35 47.00.000,00 700.000,00
13 Jrengik 11 275 6.500.000,00
14 Omben 17 20 200 35 6.000.000,00 700.000,00
J U M L A H/ 250 301 250 45 6.500.000,00 850.000,00
RATA-RATA