USPET

BIDANG PENGEMBANGAN DAN USAHA PETERNAKAN

Pembangunan peternakan dilaksanakan melalui kegiatan penyebaran dan pengembangan perbibitan ternak ternak, pembudidayaan, pengawasan penyakit serta pengolahan dan pemasaran hasil ternak. Dalam rangka menunjang keberhasilan kegiatan pembangunan peternakan diperlukan dukungan pengembangan kegiatan tersebut disertai dengan pelestarian sumberdaya ternak dan pengendalian lingkungan.

Salah satu langkah alternatif guna mendukung kegiatan tersebut dengan berpedoman kepada rencana strategis dilaksanakan upaya pengembangan ternak melalui program budidaya peternakan dan penyediaan pakan dengan pemanfaatan tehnologi seoptimal mungkin.

Dengan keberhasilan peningkatan produksi dan produktifitas ternak diharapkan peranserta masyarakat dalam pelaksanaan pengembangan perbibitan melalui Inseminasi Buatan, budidaya dan penyediaan pakan dapat semakin ditingkatkan, sedangkan pemerintah berperan dalam pembinaan, pengaturan peredaran, pengendalian dan pengawasan mutu serta pelayanan untuk menggerakkan dan mendorong serta menciptakan iklim usaha yang menunjang kearah usaha agribisnis.

Dalam kerangka perwujudan fungsi dan tugas pokok, subdin produksi melaksanakan berbagai kegiatan pembinaan dan bimbingan baik yang rutin maupun dalam konteks pembangunan sektoral dan daerah. Secara  garis besar  kegiatan  pembinaan  dan  bimbingan  tersebut  adalah sebagai berikut :

1. Pembinaan Perbibitan

Sistem perbaikan mutu ternak dilaksanakan melalui program seleksi, persilangan, pengadaan bibit melalui penyebaran dan pembesaran pedet serta recording dan reporting secara terus menerus. Persilangan dilakukan melalui penerapan teknologi inseminasi buatan (IB) yang merupakan salah satu program prioritas yang diharapkan mampu meningkatkan populasi, mutu genetik, produksi dan produktifitas ternak baik kualitas maupun kuantitasnya serta mampu meningkatkan pendapatan peternak.

a. Pelaksanaan Inseminasi Buatan Tahun 2009

Keberhasilan kegiatan inseminasi buatan harus ditunjang dengan petugas teknis yang berkualitas dan dengan jumlah yang memadai. Jumlah petugas teknis IB di Kabupaten Sampang sampai dengan akhir tahun anggaran 2009 adalah sebagai berikut :

Tabel . 4.1. Petugas Teknis IB di Kabupaten Sampang Tahun 2009

Teknisi IB Jumlah (orang) Jumlah
Aktif Non aktif
Inseminator
– Dinas 12 12
– Swadaya 14 14
Pemeriksa Kebuntingan 11 11
Asisten Teknis Reproduksi 5 5
Handling semen beku 1 1
Staf Administrasi 1 1

Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah petugas IB cukup banyak, namun hasil yang dicapai masih belum optimal. Hal ini disebabkan disamping kurangnya sarana prasarana IB juga menurunnya tingkat profesionalisme petugas IB karena sebagian besar merangkap dengan tugas lain (pemeriksa kebuntingan, asisten teknis reproduksi petugas teknis peternakan dan lain-lain).

Pelaksanaan Inseminasi Buatan sapi potong didukung anggaran   APBD Propinsi, DAU dan DAK Kabupaten Sampang. Pencapain hasil Inseminasi Buatan pada ternak sapi di Kabupaten Sampang dalam tahun 2009 terinci pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.2. Kegiatan Inseminasi Buatan ( IB ) di Kabupaten Sampang

No Uraian Hasil
1. Target (dosis) 15.000
2. Realisasi (dosis)  

– Madura

– Limousin

12.109  

1.715

10.396

3. Jumlah Akseptor (ekor)  

– Madura

– Limousin

10.975  

1.619

9.356

4. Persentase (%)  

–  Target

80.73
5. Jumlah kelahiran 3.999

Target Inseminasi Buatan di Kabupaten Sampang tahun 2009 adalah 15.000 dosis. Dengan demikian persentase pencapaian realisasi berdasarkan target IB adalah  sebesar  80.73 %.

Tabel 4.3. Prestasi rata-rata Petugas Inseminator di Kabupaten Sampang Tahun 2009.

Jenis ternak Target Realisasi Inseminator Prestasi
(dosis) Dosis akseptor aktif Ds/th Aks/th
Sapi potong 15.000 12.109 10.975 27 33.64 30.49

Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa prestasi inseminator di Kabupaten Sampang adalah 33.64 dosis / tahun atau 30.49 akseptor / tahun.

b. Penanganan Reproduksi pada Inseminasi Buatan

Kegiatan penaganan reproduksi pada inseminasi buatan ternak sapi yang dilasakanan meliputi :

–          Pemeriksaan kebuntingan (PKB)

–          Pemerikasaan gangguan reproduksi (ATR)

–          Realisasi kelahiran hasil IB

Tabel  4.4. Realisasi Hasil Kegiatan PKB, ATR dan Kelahiran Pedet Hasil IB Tahun 2009

No Uraian Jumlah Keterangan
1. Pemeriksaan Kebuntingan
– Diperiksa (ekor) 5.062
– Jumlah bunting (ekor) 4.013
– CR 69,12 %
– S/C 3,65
2. Gangguan reproduksi Gangguan reproduksi
ATR 300 terdiri dari :Aplasia ovari, Tumor ovari, Vaginitis, Torsio uteri, Retensi scundinae, Hypofungsi, Mummifikasi, Cyste ovari, Abortus, Prolaps dan Distokia
3. Kelahiran pedet hasil IB 3.999
– Madura (ekor) 621 Jantan : 303 ekor  

Betina : 318 ekor

– Madrasin/Madura Limousin (ekor) si 3.378 Jantan : 1.653 ekor  

Betina : 1.725 ekor

Pemeriksaan kebuntingan dilaksanakan oleh petugas PKB terhadap  akseptor IB minimal 2 bulan setelah di Inseminasi. Jumlah akseptor yang diperiksa 5.062 ekor. Dari hasil   evaluasi  diperoleh jumlah sapi yang bunting sebanyak 4.013 ekor angka CR sebesar 69,12 % dengan S/C = 3,65 %.

Pelaksanaan ATR dilaksanakan oleh petugas ATR, Pemeriksaan dilakukan terhadap akseptor IB yang setelah di inseminasi dua atau tiga kali berturut-turut tidak bunting. Jumlah yang diperiksa sebanyak 300 ekor.

Jumlah kelahiran hasil IB diperoleh dari hasil laporan Inseminator dengan realisasi pencapaian sebanyak 3.999 ekor, Madura sebanyak 621 ekor   (jantan 303 ekor dan 318 ekor)  dan Madrasin 3.378 ekor (jantan 1.653 ekor dan 1.725 ekor).

  1. d. Sarana Prasarana dan  Peralatan Inseminasi Buatan

Sarana prasarana dan peralatan IB merupakan salah satu penentu utama keberhasilan IB. Pada tahun anggaran 2009 pengadaan sarana prasarana dan peralatan IB sebagian didukung dari anggaran APBD Propinsi dan DAU  Kabupaten Sampang .

    – Nitrogen cair             = 4.338 liter

    – Plastik sheath            = 20 pak

    1. Buku dan Blanko

    Kebutuhan lain yang dipergunakan untuk menunjang kegiatan IB adalah buku dan blanko guna keperluan administrasi pelaporan. Realisasi pengadaan buku dan blanko adalah sebagai berikut :

    – Buku laporan kegiatan IB                 = 27 buku

    – Buku Laporan PKB                          = 27 buku

    – Buku rekapitulasi kelahiran               = 17 buah

    – Buku regester inseminasi                  = 27 buku

    – Buku kegiatan inseminator               = 17 buku

    – Kartu Akseptor  IB                           =  2  pak

    1. 2. Pembinaan Pakan Ternak

    Dalam upaya meningkatkan populasi dan produktifitas ternak adalah tersedianya pakan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitas sepanjang tahun.

    Kegiatan operasional pembinaan pakan ternak meliputi :

    1. a.      Pengadaan, Pengembangan dan penyebaran Hijauan Pakan Ternak (HPT)
    2. b.     Pembinaan pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak.

    Untuk memenuhi kualitas maupun kuantitas HPT pelaksanaan kegiatan Gemmarrampak terus ditingkatkan yakni gerakan masyarakat/peternak menanam rumput jenis unggul (rumput gajah, rumput lampung, rumput setaria dan rumput raja) ataupun jenis leguminosa lainnya.

    1. a. Pembinaan Hijauan Pakan Ternak

    –          Upaya yang dilakukan dalam rangka pembinaan HPT adalah memberikan contoh dan petunjuk teknis tentang tata cara penanaman, pengolahan lahan serta pemeliharaan, memanfaatkan lahan yang belum digunakan untuk tanaman lainnya, memberikan contoh pada masyarakat untuk penyiapan pakan sepanjang tahun.

    Adapun perkembangan penyebaran areal HPT di Kabupaten Sampang dapat dilihat pada tabel berikut :

    Tabel 4.5. Perkembangan Areal HPT di Kabupaten Sampang Tahun 2009

    No Jenis HMT Luas Areal (Ha) Ket
    2007 2008 2009
    1. Rumput Raja 27.2 26.4 28.3
    2. Rumput Gajah 323 333 341
    3. Rumput Setaria 61.8 59.8 59.4
    4. Gliriside 134 134 134
    5. Turi 104.9 105.1 105.6
    6. Lamtoro 352.1 352.1 352.3
    7. Rumput lapangan 96.4 98.6 99.1
    8. Rumput lampung 2.0 4.0 6.5
    9. Lain-lain 31.7 36.9 37

    Permasalahan yang dihadapi dilapangan antara lain :

    • Kurangnya ketersediaan hijauan pakan ternak terutama pada musim kemarau yang mengakibatkan banyak ternak yang kondisinya sangat kurus
    • Kurangnya kesadaran dan motivasi peternak untuk memanfaatkan lahan tidur, lahan yang kurang produktif untuk komoditi pertanian kurang dimanfaatkan, untuk ditanami hijauan pakan ternak .
    • Belum optimalnya pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan alternatif.
    1. b. Pembinaan Pemanfaatan Limbah Pabrik

    Pembinaan pemanfaatan limbah pertanian di Kabupaten Sampang dilaksanakan di beberapa kecamatan khususnya pada daerah yang mempunyai potensi produksi limbah tanaman pertanian dan kesulitan hijauan pada musim kemarau.

    Tujuan  pembinaan pemanfaatan limbah  pertanian   sebagai  pakan  ternak  antara lain: Untuk memanfaatakan hasil samping pertanian sebagai pakan ternak melalui penerapan teknologi pengolahan.

    1. a.      Menjamin kontinuitas pakan ternak sepanjang tahun.

    Adapun pembinaan pemanfaatan limbah pertanian tersebut direalisasikan dalam bentuk pemanfaatan jerami padi yaitu amoniasi jerami.

    4. Penyebaran dan Pengembangan Ternak

    Pelaksanaan kegiatan pengembangan ternak berpedoman pada SK Mentan Nomor : 146 / Kpts / Hk.050 / 2 / 93 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Penyebaran dan Pengembangan Ternak Pemerintah dan SK Direktur Jenderal Peternakan Nomor : 50 / Hk.050 / Kpts / 1293 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyebaran dan Pengembangan Ternak Pemerintah. Penyebaran dan pengembangan peternakan merupakan salah satu upaya untuk mencapai tujuan pembangunan sub sektor peternakan. Kegiatannya meliputi identifikasi, penyiapan , penataan, penyebaran dan pengembangan .

    Secara garis besar kegiatan pembinaan dan bimbingan tersebut adalah sebagai berikut:

    a. Pembinaan identifikasi lokasi

    Identifikasi lokasi merupakan kegiatan awal sebelum dilaksanakan penyebaran ternak di suatu lokasi meliputi tata cara seleksi, persyaratan dan penetapan lokasi dengan urutan sebagai berikut :

    a. Tata cara seleksi lokasi

    –       Petugas peternakan kecamatan menyampaikan usul lokasi penyebaran ternak kepada Dinas Peternakan Kabupaten .

    –       Dinas Peternakan Kabupaten dengan memperhatikan saran instansi terkait melakukan seleksi calon lokasi

    –       Seleksi lokasi penyebaran dan pengembangan ternak ditetapkan sesuai petunjuk Direktur Jenderal Peternakan.

    b. Syarat – syarat lokasi dan penetapan lokasi

    Setiap lokasi yang akan disebarkan ternak harus memenuhi syarat dan penetapan lokasi disesuaikan dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Peternakan Propinsi atau pejabat yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku.

    Kegiatan identifikasi lokasi penyebaran dan pengembangan ternak sebagai dasarnya adalah pertimbangan prioritas pengembangan komoditas ternak unggulan , potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia.

    b. Pembinaan Penyiapan Penyebaran

    Penyiapan penyebaran merupakan kegiatan lanjutan setelah dilakukan identifikasi. Pelaksanaan kegiatan ini meliputi penyiapan lokasi, penggaduh, ternak dan sarana. Kegiatan tersebut ditetapkan sesuai dengan petunjuk surat keputusan Menteri Pertanian Nomor : 417/Kpts/OT.210/7/2001 tahun 2001 tentang Pedoman Umum Penyebaran dan Pengembangan Ternak.

    c.  Redistribusi  Peternakan

    Kegiatan redistribusi merupakan kegiatan dimana ternak-ternak yang telah disebarkan dilajutkan dengan pengembangan kemudian disebarkan kembali atau redistribusi. Disamping itu untuk menindak lanjuti pelaksanaan penyebaran adalah pengembangan terhadap ternak-ternak hasil distribusi maupun ternak redistribusi.

    Pada tahun anggaran 2009, Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sampang mengalokasikan pengembangan ternak berupa ternak sapi dengan rincian sebagai berikut :

    Tabel 4.6. Alokasi Pengembangan Ternak di Kabupaten Sampang pada Tahun Anggaran 2009

    No Lokasi  

    (Desa/Kec)

    Jenis  

    Ternak

    Jenis  

    Kelamin

    Jumlah  

    Ternak (ekor)

    Sumber  

    Dana

    1.  

    2.

    Gunung Sekar, Sampang  

    Nipa, Banyuates

    Sapi  

    Sapi

    Betina  

    Betina

    30  

    10

    DAU  

    DAU

    Petani menerima ternak in natura berupa paket sapi (betina) untuk dikembangkan. Dengan jangka waktu pemeliharaan paling lama 3 (tiga) tahun pada sapi betina. Namun demi kepentingan Dinas, PIHAK PERTAMA berhak sewaktu-waktu melakukan penjualan dan PIHAK KEDUA wajib menyetujui, apabila jangka waktu pemeliharaan minimal selama 1 (satu) tahun pada ternak sapi. Penyebaran ternak kepada petani dilaksanakan dengan  sistem, meliputi :

    –          Bagi hasil anakan sapi apabila dijual adalah 60 % dari hasil penjualan untuk PIHAK KEDUA & 40 % untuk PIHAK PERTAMA.

    –          Apabila induk sapi dijual karena habis masa kontrak maka PIHAK KEDUA akan diberi kompensasi keuntungan oleh PIHAK PERTAMA sebesar 10 % dari harga penjualan sapi induk dimaksud.

    –          Sedangkan apabila ternak sapi dijual karena diperlukan Dinas, maka PIHAK KEDUA akan diberi kompensasi keuntungan oleh PIHAK PERTAMA sebesar 15 % dari nilai penjualan sapi.

    5.  Pembinaan Petani ternak

    Pembinaan Petani Ternak diikuti sekitar 50 orang peternak setiap lokasi. Pembinaan dilaksanakan sebanyak 1 kali per lokasi. Sedangkan dalam 1 kecamatan diadakan pembinaan pada 2 desa.

    Lokasi Pembinaan petani ternak

    No Lokasi Tanggal Pelaksanaan
    Desa Kecamatan
    I Dharma Tanjung Camplong 18 Agustus 2009
    Batokarang 19  Agustus 2009
    II Dulang Torjun 18 Mei 2009
    Kodak 20 Mei 2009
    III Sogiyan Omben 15 Juli 2009
    Rapa Laok 22 Juli 2009
    IV Kembang Jeruk Banyuates 7 Oktober 2009
    Nepa 15 Oktober 2009
    V Taman Jrengik 19 November 2009
    Majangan 4 Desember 2009

    Materi pembinaan yang diberikan adalah mengenai pengetahuan tentang peternakan secara umum yang meliputi manajemen peternakan, pemilihan bibit ternak, pemeliharaan kesehatan dan manajemen pemberian pakan serta pengenalan Instalasi Biogas. Disamping itu diberikan Praktek pembuatan dodol dedak serta demontrasi desinfeksi kandang sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit.

    Salah satu pengetahuan yang diberikan yaitu tentang manajemen pakan berupa penjelasan tentang pembuatan amoniasi jerami padi yang  merupakan suatu teknologi pakan yang memanfaatkan limbah pertanian yang terbuang pada saat musim panen padi berupa jerami padi yang diberi perlakuan khusus dengan penambahan urea yang berfungsi tidak hanya dalam proses fermentasi jerami agar lebih palatable tetapi juga menambah nilai kandungan protein pada pakan ternak sehingga pakan tidak hanya banyak mengandung unsur serat kasar tetapi juga ditambah nilai proteinnya dengan menambahkan unsur N. Dengan teknologi ini jerami padi menjadi  lebih empuk, sehingga memudahkan pencernaan dalam rumen. Pemberian jerami padi ini harus diangin-anginkan terlebih dahulu agar bau amoniak jerami berkurang. Peternak dapat memanfaatkan amoniasi jerami padi untuk mencukupi kebutuhan pakan ternak saat musim kemarau tiba. Dengan pengetahuan ini peternak diharapkan dapat memberikan pakan berupa amoniasi jerami padi sebagai salah satu alternatif pemberian pakan pada ternaknya mengingat Madura merupakan daerah dengan ketersediaan hijauan yang kurang pada saat musim kemarau.

    Praktek pembuatan dodol dedak merupakan teknologi yang sangat menarik bagi peternak. Karena dengan teknologi yang biasa dikenal peternak dengan ” jamu ternak”  ini dapat dimanfaatkan oleh peternak tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan nutrisi ternaknya tetapi juga untuk membuka usaha sebagai penambah penghasilan dengan menjualnya kepada peternak lain.  Dodol dedak dapat memperbaiki kondisi ternak dengan bahan tanaman jamu dan ditambah dengan molasses dan dedak yang tidak hanya sangat disukai ternak tetapi juga menambah nilai nutrisi pada ternak.

    Demontrasi desinfeksi kandang  dilaksanakan dari rumah ke rumah penduduk. Hal ini dimungkinkan karena hampir semua petani memiliki banyak ayam buras dan sapi yang dipelihara di area lingkungan tempat  tinggal peternak. Dengan demontrasi desinfeksi kandang, peternak diperlihatkan dan diajarkan cara membunuh dan membersihkan bibit-bibit penyakit pada areal lokasi kandang yang terletak tidak begitu jauh dari lokasi rumah tinggal peternak.

    Mesin Chooper merupakan alat pencacah pakan sehingga memudahkan peternak untuk menyediakan pakan kepada ternaknya. Dengan chooper pakan ternak berukuran besar dirajang menjadi ukuran lebih kecil yang memudahkan ternak untuk mengkonsumsinya.

    6.  Aspek Pembinaan dan Pemantauan Investasi Permodalan

    Dalam rangka mengembangkan potensi usaha peternakan di Kabupaten Sampang baik ternak sapi, kambing/domba ataupun unggas. Banyak macam pinjaman yang disediakan oleh pemerintah diantaranya KKRE, Dana Bergulir Propinsi Jawa Timur dengan bunga sekitar 6-7 % per tahun.

    Dukungan dana yang difasilitasi pemerintah saat ini belum ada realisasi dari masyarakat peternak dikarenakan belum siap baik administrasi maupun sarana pendukung lainnya. Namun demikian program ini tetap diinformasikan kepada masyarakat peternak baik melalui petugas peternakan di setiap wilayah kecamatan sekaligus menjembatani kepentingan kelompok ternak atau  perorangan akan permodalan usaha.


    1. a. Aspek Pembinaan Agribisnis Usaha Peternakan

    Untuk pemanfaatan sumber daya alam di lingkungan hidup khususnya yang terkait dengan komoditi peternakan di Kabupaten Sampang telah dikembangkan pembuatan instalasi biogas melalui Program KP2DT Tahun Anggaran 2009 sebanyak 15 unit yang tersebar di 7 Kecamatan yaitu Sampang, Torjun, Jrengik, Kedungdung, Camplong, Tambelangan dan Banyuates.

    Keberadaan Instalasi biogas ini telah dapat mengurangi penggunaan minyak tanah untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Sumber energi terbarukan (Biogas) mampu memperbaiki perekonomian peternak dan menghemat penggunaan BBM. Dengan demikian program ini hendaknya berkelanjutan untuk kesejahteraan peternak.

    1. b. Aspek Pembinaan Agribisnis Usaha Peternakan

    Pola agribisnis yang dikembangkan melalui pola kemitraan ataupun mandiri. Sementara ini belum ada pengusaha skala besar yang bermitra dengan peternak di Kabupaten Sampang. Para peternak khususnya ayam pedaging lebih menyukai usaha mandiri mengingat adanya kebebasan dalam menjual hasil produknya.

    Sementara untuk mencukupi kebutuhan daging ayam dan telur sebagian masih didatangkan dari luar daerah melalui aktivitas para pedagang atau pemotong ayam. Sedangkan pengembangan ternak itik meliputi itik potong dan itik petelur serta produk olahannya berupa telor asin dan bebek songkem yang banyak diminati masyarakat.  Adapun pengolah telor asin tersebar di setiap kecamatan sedagkan bebek songkem kebanyakan berdomisili di Desa Taddan, Kecamatan Camplong.

    Pembinaan Agribisnis Usaha Peternakan untuk ternak  besar melalui teknologi inseminasi buatan dengan produksi Sapi Madrasin atau lokal